Studi Kasus Teori Kultivasi : Tontonan Melahirkan Inspirasi

 

Nama : Yulia Fitri Rahmadini

NIM : 20.96.2034

Mata Kuliah : Teori Komunikasi

 

Studi Kasus Teori Kultivasi : Tontonan Melahirkan Inspirasi

PENDAHULUAN

Media merupakan sumber informasi dan hiburan selain itu media juga dapat berfungsi sebagai sumber edukasi. Media telivisi muncul setelah adanya media radio dan media cetak. media televisi berhasil menciptakan daya tarik baru dan beradaban bagi manusia. Saat ini hampir semua orang menjadikan televisi sebagai sumber informasi mereka.

 George Gerbner kemudian menciptakan sebuah teori yaitu teori Kultivasi atau Cultivation Theory, awal mula munculnya teori ini adalah ketika George Gerbner melihat fenomena meningkatnya kriminalitas yang terjadi dari efek kumulatif mengkonsumsi televisi. teori ini merupakan penelitian terhadap efek jangka panjang terhadap orang yang mengkonsumsi media televisi, khalayak yang menonton televisi secara terus menerus akan berpresepsi bahwa dunia nyata atau lingkungannya sama dengan yang ada di televisi, singkatnya dampak media massa kepada kehidupan sehari hari atau behaviour effect.

Asumsi teori ini adalah bahwa televisi merupakan media yang menyebar dan mudah diakses oleh semua orang, khalayak media televisi mempunyai dua tipe yaitu penonton berat dan ringan. Penonton ringan merupakan orang orang yang mengkonsumsi televisi hanya untuk berbenah saja, sedangkan penonton berat merupakan penonton yang tidak lepas dari informasi media televisi dan menjadikan televisi sebagai acuan atau patokannya. Dampak kultivasi bisa saja berdampak positif dan negatif tergantung kepada khalayak mengkonsumsi informasi yang seperti apa, karena aksesbilitas televisi sangatlah luas.

Dalam studi kasus ini saya akan menganalisa fenomena kultivasi dari efek orang orang yang menonton drama korea selatan, drama korea memang menjadi konsumsi para remaja, dewasa dan setiap kalangan di Indonesia, budaya K-Pop sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 2000an yang membuat pecinta drama korea dan K-Pop semakin bertambah saat ini. Beberapa waktu lalu sempat viral sekumpulan pria dewasa yang memulai usaha kedai makanan dan mengadakan grand opening pada tahun 2019 lalu yang berlokasi di Tangerang. sekumpulan pria dewasa tersebut merupakan penggemar drama korea yang berjudul Itaewon Class dan diduga mereka memulai usaha kedai tersebut karena terinspirasi dari drama Itaewon Class. Kedai atau restoran merekapun sangat mirip dengan menu dan interior dalam drama tersebut.

 Drama Itaewon Class merupakan drama yang menceritakan kisah pengusaha muda yang memulai usaha kecil yaitu kedai makanan hingga berhasil menjadi perusahaan besar yang mempunyai cabang dimana mana setelah melewati serangkaian kesulitan dan kepahitan hidup.

ANALISIS KONSEP TEORI

1.      Massage System Analysis

Masaage System Analysis ini merupakan analisis terhadap isi pesan pada sebuah program televisi. Konsep ini mengarah kepada informasi apa yang dapat dikonsumsi oleh khalayak melalui sebuah program televisi dan apakah informasi tersebut mengarah kepada efek negatif atau positif.

Hasil analisis drama Itaewon Class merupakan drama yang sangat realistis dengan kehidupan bisnis didunia nyata, Itaewon Class menggambarkan kisah sukses pengusaha muda yang berawal dari sebuah kedai kecil  memulai semuanya dari bawah dengan bantuan rekan rekan sekaligus sahabatnya. Banyak lika-liku yang harus dilewati bersama sehingga akhirnya bisa sampai pada titik kesuksesan. Drama ini ditargetkan untuk para pemuda untuk memberikan inspirasi dan semangat juang.

 pesan yang dapat dipetik dalam drama tersebut adalah kita harus menjadi orang yang pekerja keras dan teguh pendirian, mempunyai prinsip untuk mencapai sebuah target, sabar dan nikmati semua proses akan tiba saatnya dimana kita bisa menikmati hasil kerja keras.

2.      Formulation Of Question About Viewers

Konsep ini merupakan pertanyaan tentang seberapa realistis program televisi dengan kehidupan sehari-hari. Drama tersebut sangat realitis dengan kehidupan sehari-hari, dimana banyak orang yang sedang merintis usaha mengalami kegagalan berkali kali, bahkan kesuksesan yang bisa dilihat hanya 20% saja dan 80% adalah kegagalan. Selain kegagalan dalam drama juga terdapat pesaing bisnis, hal ini juga realistis dengan kehidupan nyata karena setiap usaha pasti memiliki pesaing bisnis dan setiap pengusaha mempunyai strategi dalam meningkatkan penjualan. Dalam drama juga terdapat beberapa isu tindakan diskriminasi dan bulliying, tindakan ini juga realistis dengan kehidupan dimana orang yang mempunyai status sosial dan finansial rendah mendapatkan perlakuan diskriminasi di masyarakat.

3.      Survey The Audiences

Konsep survey the audiences merupakan penelitian terhadap audiens, mencakup seberapa berpengaruh program tevelisi tersebut terhadap konsumennya dan audiens seperti apa atau dari kalangan mana yang mempunyai pengaruh lebih besar. Drama Itaewon Class dan drama korea selatan lainnya banyak dikonsumsi oleh remaja 15 tahun hingga orang dewasa 40an, variabel audiens ini dikarenakan genre drama korea yang beragam dan tema yang tidak monoton disetiap serial. Misalnya, genre action yang dibumbui dengan romance, atau genre historical dengan comedy. Beragam genre inilah yang membuat drama korea mempunyai daya tarik tersendiri bagi audiens. Drama Itaewon Class ditonton oleh remaja 20 tahun-30tahun karena bertemakan bisnis dan sedikit percintaan, hal ini membuat drama Itaewon Class lebih berpengaruh terhadap para pemuda karena intensitas penontonnya.

 

4.      Perbandingan antara penonton berat (heavy viewer) dan penonton ringan (light viewer)

Pada konsep terakhir ini, merupakan pelitian terhadap seberapa efektif pengaruh atau efek dari penonton berat dan penonton ringan yang jarang menonton televisi. Seperti yang kita ketahui media telivisi merupakan media hiburan dikala bosan saja bagi sebagian orang dan merupakan sumber atau kiblat semua informasi bagi sebagian orang juga, hal ini yang membedakan penonton berat dan penonton ringan. Pengaruh terhadap penonton ringan drama Itaewon Class tidak terlalu signifikan atau kurang efektif, mereka menganggap sebuah drama hanyalah hiburan untuk melepas penat dari kesibukan sehari hari, sedangkan bagi penonton berat drama Itaewon Class menjadikan pelajaran dari drama tersebut sebagai bahan inspirasi dan berpresepsi bahwa kejadian kejadian dalam drama sangat dekat atau sangat realistis dengan kehidupan sehari-hari.

KESIMPULAN

·         Teori Kultivasi atau Cultivation Theory merupakan suatu teori pengamatan sosial yang berkaitan tentang bagaimana media televisi dapat mempengaruhi prilaku dan persepsi khalayak atau penontonnya. Kultivasi beranggapan bahwa orang yang mengkonsumsi informasi dari televisi secara kumulatif atau terus menerus akan mengubah pandangan audiens terhadap dunia nyata sama dengan apa yang ditonton dari televisi. Sebenarnya teori ini hanya pengamatan tentang efek dari orang yang menonton televise, namun karena perkembangan beradaban dan munculnya new media teori kultivasi dapat berkembang. Teori kultivasi pertama kali ditemukan oleh George Gerbner yang berawal dari melihat fenomena meningkatnya angka kriminalitas yang disebabkan dari efek menonton televisi.

·         Dalam essay ini saya menganalisis fenomena efek jangka panjang seseorang yang mengkonsumsi serial drama berjudul Itaewon Class menggunakan konsep-konsep yang ada dalam teori kultivasi. Sekumpulan pria yang memulai bisnis kedai/restoran karena terinspirasi dari tontonannya, hasil analisis dalam studi kasus ini adalah dari sisi isi program televisi drama Itaewon Class mempunyai banyak pelajaran positif yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan, dari konsep pendekatan dengan dunia nyata sangat realistis karena banyak fenomena yang memang benar benar terjadi di masyarakat di kehidupan sehari-hari, konsep pengaruh terhadap audiens atau survey the audience cukup bervariasi dan lebih menciptakan pengaruh besar pada kalangan muda, dan konsep perbandingan antara penonton berat dan ringan lebih menunjukkan efektifitas terhadap penonton berat daripada penonton berat karena penonton berat memiliki kecenderungan mengandalkan televisi untuk mencari informasi, sedangkan penonton ringan hanya menonton televisi sebagai bahan hiburan saja.


DAFTAR PUSTAKA

·         Junaidi. 2018. Mengenal Teori Kultivasi dalam Ilmu Komunikasi, 4 (1). 1.

·         Saefudin. 2007. Cultivation Theory (2005). https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mediator/article/download/1243/792, diakses pada 24 Juli 2021 pukul 09:13 wita.

·         Rohmah, N. 2020. Prilaku Sosial Remaja dan Tayangan Televisi (Analisis Teori Kultivasi) 3(2). 17-40. http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1726266&val=12068&title=PERILAKU%20SOSIAL%20REMAJA%20DAN%20TAYANGAN%20TELEVISI%20ANALISIS%20TEORI%20KULTIVASI, diakses pada 24 Juli 2021 pukul 10:21 wita, dari Universitas Muhammadiyah Mataram.

Comments

Popular Posts